Istri Pak Hendra memperhatikan luka kecil di kakinya tiga minggu sebelum Pak Hendra menyadarinya.
"Lukanya sangat kecil," katanya sambil memperagakan dengan jarinya. "Mungkin seukuran penghapus pensil. Akibat gesekan sandalnya. Saya menyuruhnya mengoleskan antiseptik."
Namun luka itu tidak sembuh. Malah membesar. Lebih dalam. Kulit di sekitarnya berubah menjadi gelap. Dalam dua minggu, Pak Hendra tidak bisa berjalan tanpa rasa sakit yang hebat. Dalam tiga minggu, ia berada di rumah sakit dan diberitahu untuk "bersiap menghadapi kemungkinan" bahwa jari kakinya mungkin perlu diamputasi.
Ia berusia 52 tahun. Seorang sopir taksi. Ayah dari tiga anak.
"Saya terus memikirkan tetangga saya, Pak Wahid," katanya, suaranya hampir berbisik. "Dia kehilangan kakinya dua tahun lalu. Dimulai dengan luka kecil seperti milik saya. Saya melihatnya berubah dari berjalan menjadi menggunakan kruk hingga kursi roda dalam waktu enam bulan."
Kisah Pak Hendra mewakili salah satu realitas paling menakutkan yang dihadapi pasien diabetes di Indonesia: perkembangan diam-diam dari "diabetes kering" menjadi "diabetes basah"—titik di mana luka muncul dan menolak untuk sembuh, di mana tubuh seolah berbalik melawan dirinya sendiri, di mana amputasi bukan lagi ketakutan yang jauh tetapi kemungkinan yang nyata.
Namun, apa yang ditemukan Pak Hendra dalam pencariannya yang putus asa untuk mendapatkan jawaban menantang narasi umum tentang mengapa beberapa pasien diabetes mengembangkan luka sementara yang lain tidak.
Ketika saya bertanya kepada Dr. Bambang Sutrisno, seorang ahli bedah vaskular di Rumah Sakit Fatmawati, tentang prevalensi luka diabetes di Indonesia, ia tampak murung.
"Setiap minggu, saya melihat pasien yang datang terlambat," katanya. "Lukanya sudah ada selama berminggu-minggu, kadang-kadang berbulan-bulan. Mereka telah mencoba pengobatan tradisional, mereka telah mencoba berbagai antibiotik. Tetapi tidak ada yang berhasil. Pada saat mereka datang kepada saya, kami sering kali mempertimbangkan amputasi sebagai pilihan teraman."
Statistiknya sangat mengejutkan. Indonesia memiliki salah satu tingkat amputasi terkait diabetes tertinggi di Asia Tenggara. Tetapi yang kurang dibahas adalah dampak psikologisnya.
"Pasien memberi tahu saya bahwa mereka lebih takut kehilangan anggota tubuh daripada takut mati," kata Dr. Bambang. "Karena mereka telah melihat hal itu terjadi pada seseorang yang mereka kenal. Mereka telah melihat bagaimana hal itu menghancurkan bukan hanya mobilitas, tetapi juga martabat, kemandirian, dan identitas."
Inilah ketakutan yang menghantui komunitas diabetes Indonesia: perkembangan menuju "diabetes basah." Momen ketika luka kecil menjadi luka yang tak kunjung sembuh. Ketika tubuh kehilangan kemampuannya untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
Pak Hendra hidup dengan ketakutan ini setiap hari setelah diagnosisnya.
"Saya memeriksa kaki saya secara obsesif," akunya. "Setiap malam sebelum tidur. Mencari luka, bintik hitam, apa pun. Istri saya mengira saya paranoid. Tapi saya telah melihat apa yang terjadi. Saya tahu apa yang saya coba cegah."
ANGKA GULA DARAH TERLIHAT BAGUS. TETAPI TUBUHNYA TERASA SANGAT BURUK.
KETAKUTAN YANG TAK PERNAH DIBICARAKAN
PENJELASAN PUKUL 2 PAGI YANG MENGUBAH SEGALANYA
Malam sebelum konsultasi terjadwalnya tentang kemungkinan amputasi, Pak Hendra tidak bisa tidur. Luka di kakinya berdenyut. Pikirannya dipenuhi bayangan kursi roda, ketidakmampuan untuk bekerja, dan menjadi beban bagi keluarganya.
Pukul 2 pagi, ia mulai mencari di ponselnya: "kenapa luka diabetes tidak sembuh".
Apa yang ia temukan bukanlah yang ia harapkan.
Sebagian besar artikel membahas tentang pengendalian gula darah, tentang menjaga kebersihan luka, tentang antibiotik. Hal-hal yang sudah dikatakan dokter kepadanya. Hal-hal yang tidak berhasil.
Tetapi kemudian ia menemukan sebuah makalah penelitian medis yang menjelaskan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya merinding karena menjelaskan semuanya.
"Artikel itu mengatakan bahwa luka diabetes tidak sembuh bukan karena infeksi," kata Pak Hendra kepada saya, sambil membuka artikel yang tersimpan di ponselnya. "Luka tersebut tidak sembuh karena tubuh telah kehilangan kemampuan untuk beregenerasi. Sel-sel yang seharusnya memperbaiki kerusakan—tidak berfungsi lagi."
Penelitian tersebut menjelaskan tiga kerusakan kritis yang terjadi pada pasien yang mengembangkan diabetes basal: