"Saya pikir itu aneh," kata putrinya, Dini, kepada saya. "Mengapa dia menyembunyikannya di sana? Lalu saya mengerti. Dia malu. Setiap pagi, seluruh keluarga berkumpul di dapur untuk sarapan. Nasi, tempe goreng, teh manis. Dan di sana ada ibu saya, menyuntik dirinya sendiri, makan dengan cara berbeda, menjadi berbeda."
Ibu Sari berusia 48 tahun. Seorang guru SMA. Seorang ibu yang selalu bangga memberi makan keluarganya dengan baik—porsi besar nasi putih, kue buatan sendiri, teh manis yang kental.
"Dokter mengatakan kepada saya bahwa saya harus mengubah semuanya," kata Ibu Sari, suaranya hampir tidak stabil. "Kurangi nasi saya. Tidak ada lagi gula dalam teh saya. Tidak ada lagi kue. Hitung setiap karbohidrat. Suntik insulin dua kali sehari. Mungkin tiga kali jika angka saya tetap tinggi."
Dia mencoba. Selama delapan bulan, dia mencoba dengan segenap disiplin yang dimilikinya.
Kadar A1C-nya turun dari 9,1 menjadi 8,7. Kemudian kembali naik menjadi 8,9. Angka glukosa puasanya berfluktuasi liar—203 pada suatu pagi, 167 keesokan harinya, 215 pagi setelahnya. Dosis insulinnya terus meningkat. Pertama 10 unit. Kemudian 15. Kemudian 20.
"Saya merasa gagal menjadi orang Indonesia," katanya kepada saya. "Bagaimana Anda duduk di meja makan keluarga dan tidak makan nasi? Bagaimana Anda menolak kue ibu mertua Anda tanpa menghinanya? Bagaimana Anda menjelaskan kepada anak-anak Anda bahwa Ibu tidak bisa makan apa yang mereka makan?"
Tetapi apa yang ditemukan Ibu Sari selama pencarian putus asa di tengah malam menantang semua yang telah dia dengar tentang pengendalian gula darah. Ini bukan tentang disiplin. Ini tentang apa yang terjadi pada nasi dan gula di usus sebelum mencapai aliran darah—dan mengapa kemauan keras saja akan selalu kalah dalam pertempuran itu.
Ketika saya bertanya kepada Dr. Putri Andini, seorang ahli endokrinologi di RSUP Cipto Mangunkusumo, tentang pasien diabetes di Indonesia dan kepatuhan diet, ia terdiam cukup lama.
"Rasa bersalahnya sangat luar biasa," akhirnya ia berkata. "Pasien datang kepada saya dengan perasaan hancur karena mereka 'curang' dan makan setengah piring nasi di sebuah pesta pernikahan. Atau karena mereka minum satu gelas es teh manis di acara keluarga. Mereka meminta maaf. Mereka berjanji untuk berbuat lebih baik. Mereka menganggapnya sebagai kegagalan moral."
Ia membuka catatan pasien di komputernya. "Tapi lihat angka-angka ini. Pasien A: kepatuhan sempurna selama dua minggu, kontrol porsi, tanpa gula. A1C turun 0,3 poin. Pasien B: kepatuhan sedang, masih makan nasi setiap hari. A1C turun 0,2 poin. Perbedaannya sangat kecil. Mengapa?"
Saya menunggu.
"Karena kita meminta mereka untuk melawan seluruh budaya makanan mereka hanya dengan kemauan keras. Nasi bukan hanya makanan di sini—bukanlah sebuah hidangan tanpa nasi. Dan usus mereka menyerap setiap gram glukosa dari nasi itu langsung ke aliran darah mereka. Tidak ada disiplin yang dapat mengubah tingkat penyerapan itu."
Inilah penderitaan tersembunyi pasien diabetes Indonesia: pertempuran terus-menerus antara identitas budaya dan kebutuhan medis. Rasa malu karena menjadi satu-satunya di meja makan yang makan berbeda. Isolasi karena menolak makanan yang mewakili cinta, keramahan, keluarga.
Ibu Sari hidup dengan rasa malu ini setiap hari.
"Saya mulai menghindari pertemuan keluarga," akunya. "Pernikahan, pesta ulang tahun, makan malam Minggu di rumah mertua saya. Karena saya tahu akan ada makanan yang tidak bisa saya makan. Pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Penghakiman yang tidak bisa saya hadapi."
Dia berhenti sejenak, menenangkan diri. "Dan suntikan insulin—saya membencinya lebih dari penyakit itu sendiri. Bukan jarumnya. Ketergantungannya. Pengingat terus-menerus bahwa tubuh saya telah gagal. Bahwa saya membutuhkan bahan kimia eksternal untuk bertahan hidup."
RASA MALU YANG TAK PERNAH DIBICARAKAN SIAPAPUN
PENJELASAN PUKUL 2 PAGI YANG MENGUBAH SEGALANYA
Malam ketika putrinya menemukan pena insulin yang tersembunyi, Ibu Sari tidak bisa tidur. Rasa malu membakar hatinya. Kemarahan pada tubuhnya sendiri membakar lebih hebat lagi.
Pukul 02:17 pagi, ia mulai mencari di ponselnya: "kenapa nasi bikin gula darah naik" (mengapa nasi membuat gula darah naik?).
Sebagian besar artikel menjelaskan indeks glikemik, penghitungan karbohidrat, pengendalian porsi. Hal-hal yang sudah ia ketahui. Hal-hal yang tidak berhasil.
Tetapi kemudian ia menemukan makalah penelitian dari Universitas Indonesia tentang penyerapan gula pada populasi Indonesia. Apa yang dibacanya membuat tangannya gemetar.
“Artikel itu menjelaskan bahwa ketika kita makan nasi, glukosa tidak hanya muncul di darah kita,” kata Ibu Sari kepada saya, sambil membuka PDF yang tersimpan. "Glukosa diserap melalui dinding usus. Dan orang Indonesia—karena diet tinggi karbohidrat kita sejak kecil—memiliki penyerapan usus yang sangat efisien. Kita pada dasarnya dioptimalkan untuk mengekstrak dan menyerap setiap molekul glukosa dari nasi dan gula."
Penelitian tersebut menjelaskan mekanisme yang belum pernah ia dengar dibahas: